Semester Terakhir di Postgraduate Diploma

Sebelumnya saya mau cerita soal skema studi yang harus saya lalui di Auckland Uni ini. Jadi studi master dengan total 2 tahun itu terdiri dari 1 tahun Postgraduate Diploma (PGDip) yang terdiri dari perkuliahan di kelas dan 1 tahun Master dengan penelitiannya. Jika nilai PGDip mencukupi, barulah saya diizinkan untuk lanjut ke Master. Alhamdulillah, meskipun dengan perasaan tegang sepanjang waktu karena di semester lalu nilai saya sedikit kurang memenuhi syarat, akhirnya di semester ini hasilnya lebih baik dan sayapun masih diberi kesempatan untuk melanjutkan Master. Berdasarkan pengalaman belajar semester sebelumnya, saya jadi lebih berhati-hati dalam memilih mata kuliah yang akan diambil di semester kedua ini. Kriteria yang saya pertimbangkan diantaranya:

  1. Tingkat ketertarikan saya terhadap mata kuliah tersebut. Dengan cinta, akan semakin mudah untuk memahami, cieee. Di semester ini, paper yang menarik perhatian saya diantaranya topik penelitian (karena nyambung juga dengan kelanjutan studi), psikologi politik, dan psikologi kematian. Sebenarnya saya tertarik juga dengan psikologi forensik, namun syarat untuk mengikuti paper ini adalah saya harus terdaftar di peminatan klinis, dimana bidang ini hanya dikhususkan untuk penduduk NZ saja.
  2. Bobot penilaian. Saya menyadari bahwa kelemahan terbesar saya adalah Bahasa, maka penilaian-penilaian singkat seperti exam akan lebih beresiko untuk saya ketimbang penilaian berjangka semacam tugas dan proposal akhir. Ketiga mata kuliah yang saya ‘kecengin’ nampaknya cukup menyeimbangkan porsi kerja saya: Political Psychology yang terdiri dari 100% coursework dengan komponen partisipasi kelas, essay, dan proposal akhir; Psychology of Death and Dying yang terdiri dari 30% seminar dan 70% exam; dan Research Topic yang terdiri dari 100% coursework. Sehingga, tugas akhir saya nantinya terdiri dari 1 proposal, 1 exam, dan 1 research report. Susunan seperti ini membuat saya lebih bisa bernafas ketimbang semester lalu yang penilaian akhirnya terdiri dari 4 exams dan 1 proposal, fiuuuh.
  3. Dosen. Kalau nggak suka sama dosennya, seringnya bakal susah buat ngerti penjelasannya, karena kita kualat kalo jelek hati kayak gitu, hehe. Usaha yang saya lakukan buat mengenal lebih dulu dosennya diantaranya dengan bertanya pada teman-teman yang sebelumnya pernah mengambil paper tersebut. Selain itu, saya juga mengintip profil berikut foto mereka di website uni, kemudian saya rasakan dan bayangkan kalau saya akan menghabiskan waktu selama satu semester dengan sosok-sosok ini.

Dan bismillah, sayapun enrolled di ketiga papers tersebut di atas.

Political Psychology. Dosennya lulusan UCLA (salah satu kampus impian saya!) dan tampak masih muda. Tiap masuk kelas beliau pasti bawain biscuit untuk diestafetkan ke seantero kelas (yang jumlah students-nya nggak lebih dari 16 orang). Bobot penilaian partisipasi di kelas juga fair karena semua orang dikasih kesempatan buat berkontribusi, jadi nggak ada istilah ada yang mendominasi kelas dan sebaliknya. Hal ini membuat saya juga mendapat jatah ngomong yang cukup karena kalau nggak dikasih kesempatan begitu, belum tentu saya mampu ‘membaur’ di diskusi kelas. Kebiasaan saya sebelum masuk kelas adalah bikin minuman cokelat panas untuk nantinya diseruput di sela waktu kelas, bisa bikin saya lebih tenang pas ngerasain tegang sebelum ngomong. Tegang? Iya, tegang. Saya baru ngerti istilah jago kandang setelah ngerasain ternyata susah juga ngomong di luar zona nyaman kita: menggunakan bahasa asing, jadi minoritas, dan belum kenal dekat sama semua teman sekelas.

Research Topic. Paper ini udah saya kecengin sejak semester pertama, tapi baru kesampean di semester ini pas supervisor masterku juga ngerekomendasiin paper ini as a foundation for my thesis. Alhamdulillah. Paper ini berbobot 30 points (lebih besar dari kedua papers lainnya) sekaligus ngasih waktu paling fleksibel karena kita sendiri yang ngatur waktunya. Meskipun fleksibel, saya beruntung dapet supervisor yang bener-bener peduli dan minta laporan progress setiap minggunya, jadinya saya nggak nyantai kebablasan.

Psychology of Death and Dying. Dosennya lulusan Oxford (too tempting to not mention it, one of my dream campus too, obviously!) dan berhasil bikin saya terharu-terpacu dengan cara beliau mengekspresikan keterkaitan tindakan saya dengan kematian ayah saya melalui kata-kata. Dari awal masuk kelas udah dibikin berbunga-bunga dengan dikasih flashdisk berisi materi kelas, bertuliskan nama kita sendiri. Meskipun agak sulit memahami penjelasan dosennya yang cepet banget ngomongnya, tapi karena anggota kelasnya cuma 12 orang, suasananya jadi lebih santai dan kita bisa dengan bebas minta penjelasan beliau lebih lanjut lagi. Saya bukan cuma belajar tentang perilaku manusia terkait kematian, tapi tentang se-tidak-jelas-gimana-pun kamu ngomong (baca: ngomong kecepetan, dll), kamu masih bisa bikin mahasiswa kamu paham dengan segala cara. Hehe, ini cuma pembenaran saya karena ngomong saya cepet, tapi insyaAllah saya akan terus berusaha latihan supaya temponya lebih normal.

Alhamdulillah akhirnya saya berhasil menyelesaikan studi PGDip saya (with Merit! Hehe) dan diperkenankan untuk melanjutkan Master. Tapi karena ceritanya masih bersambung, nggak seru kalau nggak ada sesuatu yang bikin tegang dan penasaran untuk lihat kelanjutannya: karena proses enrollment yang lambat, maka proses pembayaran tuition fees ikut tersendat. Hal ini bisa berpengaruh pada proses pengajuan renew visa saya yang expired seminggu lagi, dan resiko terbesarnya, enrolment saya dibatalkan. Allah memang tidak akan membiarkan hambaNya berleha-leha, supaya terus menggantungkan diri padaNya, terus ingat padaNya, dan terus meminta tolong padaNya. Karena berbagai usaha sudah saya lakukan, mulai dari mengirim email ke universitas dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, ke LPDP, ke imigrasi, dst. Sekarang tinggal memasrahkan semuanya pada Allah. Tegang, iya. Tapi Allah lebih suka kita tegang lalu ingat padaNya, ketimbang santai dan jadi lupa tentangNya. Lahaula wala quwwata ila billah.

Comments

Post a Comment