Kia Ora

Menunggu
Tahun ini adalah tahun dengan momen menunggu terbanyak sepanjang hidup, mulai dari menunggu Keke keluar kelas saat menjemputnya pulang sekolah, menunggu pengumuman seleksi beasiswa beberapa tahap, mengikuti proses pendaftaran universitas, menunggu visa keluar, menunggu pencairan dana setelah pengajuan, menunggu kabar atau konfirmasi dari pihak-pihak terkait keberangkatan, dan menunggu-menunggu lainnya. Tapi karena ini yang saya inginkan, maka menunggu itu menjadi suatu keindahan. Meskipun harus bertetes-tetes air mata, berdarah-darah, tetap saja rasanya nikmat (pada akhirnya).

Setelah sesi menunggu visa berakhir, saya akhirnya mendapatkan tiket pesawat CGK-SYD-AKL untuk tanggal 18 Juli. Dan begitu melihat e-ticket masuk ke email saya, rasanya masih seperti mimpi. Beneran ini teh saya mau belajar ke luar negeri? Beneran ini teh saya mau ninggalin keluarga dan harus melewati masa menunggu yang menyiksa itu lagi? Beneran ini teh saya mau masuk ke kelas yang bahasanya full English? Beneran ini teh saya berani terbang sendiri ke negeri orang? Dan beneran-beneran lainnya.

Jangan Nangis
Malam hari sebelum keberangkatan, saat saya packing barang bawaan, Mamah suddenly mengusap-usap kepala dan punggungku, "Makasih teteh udah ngebahagiain mamah." Yaampun... Belum berangkat aja udah mellow gini rasanya. Tapi Mamah juga bilang, "Jangan nangis, karena ini kan yang kita pengen dari dulu." Glek, air matanya ditelen lagi dengan susah payah.

Keesokan harinya, sebelum ke pool Primajasa tujuan bandara Soetta, kami mampir ke Money Changer untuk menukarkan uang. Dan ternyata New Zealand Dollar itu jarang banget disini, jadi nggak bisa mendadak. Idealnya, nukerin mata uang itu maksimal 1 hari sebelumnya, oke? Lanjut menuju pool Primjas. Begitu saya duduk di bis dan cium tangan sama Mamah, tangisnya udah nggak bisa terbendung lagi. Jadilah kami berempat nangis di tempat yang berbeda, saya di bis yang mulai berjalan maju, Mamah, Keke, dan Firyal di perjalanan pulang menuju Tanjungsari. Yang bikin saya terharu adalah ketika Firyal melihat Mamah dan Keke menangis, dia juga ikut menangis. Tapi bukan tangisan menjerit yang biasanya dia lakukan kalau lapar atau mengantuk, tapi hanya terdiam sambil meneteskan air mata lalu mengusapnya dengan tangannya sendiri. Ya Allah.

Sesampai di bandara, waktu masih menunjukkan pukul 3 sore, sedangkan pesawat take off pukul 20.20. Jadilah saya 'kelayapan' di bandara, dan terdampar di lorong perkantoran perusahaan penerbangan untuk ikut mencharge HP. Melalui low batt-nya HP saya itulah saya bertemu dengan Mbak-Mbak janitor yang sedang hamil 7 bulan, mengobrolkan beberapa kisah hidup masing-masing, dan bisa bikin masing-masing dari kita makin mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

Setelah maghrib, saya check in dan mendapati bahwa saya tidak kebagian tempat duduk yang enak karena hampir full. Padahal sejak sore hari saya sudah di sekitaran situ. Idealnya, begitu kita tiba di bandara, sekalipun kita terlalu awal, langsung check in aja dulu untuk mastiin seat (untuk yang seat-nya ditentukan ketika check in). Tapi alhamdulillah seat yang menurut petugas Qantas (baca: kuantas, saya sempat salah menyebutnya sesuai tulisannya, haha) tidak enak, menurut saya enak-enak aja kok. Karena kriteria kursi enak menurut saya adalah yang penting dekat jendela. Hehe.

Koper-Porter
Koper saya beratnya sekitar 25 kg, dan saya sok jagoan membawanya sendiri sampai kalo kata orang Sunda itu pepeyekehan, ripuh, riweuh, dan istilah lainnya. Ketika sedang kerepotan memindahkan koper dari lantai ke jalur penyimpanan bagasi, saya melihat perempuan seusia saya yang juga sendiri, namun kopernya dibawakan porter, dan dia cukup berdiri manis tanpa diperhatikan banyak orang. Idealnya adalah, kalau kita tidak mampu membawa suatu beban, mintalah pertolongan kepada yang 'berwenang'-dalam hal ini porter yang memang tugasnya membantu kita, meskipun dibayar, tapi worthed kok. Kemudian di bandara Auckland saya disindir lagi sama petugas pabean, "Why you bring something that you can not carry by yourself?" Tsaaaahh.

Ketemu LPDP-ers
Gimana rasanya ketemu sama orang Indonesia di luar negeri? Kayak ketemu sama temen segeng yang udah akrab banget padahal baru kenal sekali itu. Dan sebelum sampai di Aucklandpun alhamdulillah saya udah ngerasain hal tersebut. Di pesawat menuju Sydney, seseorang membantu mengangkat tas LPDP saya ke bagasi penumpang, dan menggumam, "LPDP juga ya Mbak." Eh, mas juga? Sehingga alhamdulillah di perjalanan pertama saya naik pesawat ke luar negeri saya tidak jadi sendiriaaan! LPDP-ers ini namanya Fadlan, satu angkatan PK dengan Agus JOharudin, mau kuliah di UNSW. Which mean cuma bareng sampai Sydney aja, sendirian deh dari Sydney ke Auckland-nya. Okesip.

Skip
Ah ini cuma perassan yang numpang lewat. Lucu aja pas dengerin kru pesawat yang ngasih pengumuman dengan susah payah ngomong bahasa Indonesia dengan logat English. Jadinya berasa saya yang becoming a foreigner (yaemang kata mereka mah kamu yang jadi orang asing, az!).

Pindah pesawat di Sydney. Foto diambil dari dalam pesawat QF 143.
I am (also) becoming a Hollywood actress!
:p Ini juga cuma imajinasi saya aja. Habisnya pas datang ke bandara Sydney yang mayoritas bule semua, berasa kayak di film-film barat yang isinya juga bule semua. Ah, jadi inget sama Sherlock Holmes.

Indonesia vs Donation
Saya akui pendengaran saya memang kurang. Tapi keterlaluan nggak sih pas saya bangun tidur, saya dengar pramugari berkeliling sambil bertanya, "Indonesian?". Lalu saya bergegas memanggilnya kembali sambil bilang, "I am Indonesian, you said?" Dan diapun menjawab dengan tatapan heran, "Donation?". Jatuhlah 'citra' saya sejatuh-jatuhnya.

Well Prepared :p
Biarpun ada beberapa cerita di atas yang realitanya tidak ideal, finally I got a compliment from petugas bandara saat bisa menjelaskan isi koper yang dideclare dengan detail, "You know the details of your luggage content, that's good." Saya tersenyum lebar. Walaupun kemudian satu barang ditahan oleh mereka, lengkeng dari Mamah. Maafkaaan Mah. Pas saya ceritain kalo lengkengnya diambil petugas, my mom said, "Padahal bilang ke petugasnya, sebentar atuh mau saya makanin dulu lengkengnya sampai habis." -_-

Surprise!
Ah saya seneng banget dikasih surprise (ngarep+modus). Dan kedatangan pertama saya ke Auckland disambut oleh satu surprise keren dari kampus baru saya: penjemputan gratis dan diantar sampai tempat tinggal kita. Actually ini adalah layanan dari kampus untuk student yang sudah mengisi form airport pickup sebelumnya, di form itu tertulis kalau mereka meminta kita untuk mengisi form tersebut maksimal 7 hari sebelum kedatangan. Tapi saya keukeuh aja iseng ngisi form itu di 2 hari sebelumnya, which was late. Sehingga ini jadi kejutan bagi saya, karena saya kira AucklandUni tidak akan menghiraukan form yang saya telat isi tersebut, dan ternyata tetap dijemput. Di lobby saya melihat deretan orang yang memajang nama tanda sedang menunggu seseorang tiba, dan salah satunya tertulis University of Auckland. Alhamdulillah. Seneng banget lah ada yang nungguin pake tempelan nama itu, meskipun nggak langsung nama saya yang ditulis, tapi that was for me.

Limo oh Limo
Aku mengikuti langkah penjemputku menuju area parkir, dan ia berjalan mendekati sebuah limosin. Hah? Hidungku sudah kembang-kempis aja berasa mimpi jadi Blair Waldorf udah di depan mata, nyobain naik limo. And guess what? Sir ini memegang pegangan pintu limo sesaat lalu berkata, "Do you think we will go with this limo?", sambil tertawa. Aku tak kuat menahan tawa meski muncul juga setitik kecewa, hihihi. Dan beliaupun menunjuk Odyssey abu-abu, tanda itulah mobil yang akan kita naiki. Ini Bapak jahil juga ternyata, tadi padahal kita udah ngelewatin Odyssey itu. Jadi si Bapak niat banget mau bercanda tentang limo. Gokil.
Bapaknya selain gokil juga baik banget. Begitu akan sampai di tempat, dia menawarkan untuk menelepon calon roommate saya, Vanni, dan memintanya untuk menunggu saya di depan apartment. How sweet. Pas saya izin mau beli simcard, beliau larang dan bilang yang artinya kira-kira gini, "Nanti kita kasih kok simcard, jangan beli, sayang uangnya." Aaaawwww. Makasih banyak Sir yang juga suka masakan-masakan Indonesia especially yang spicy kayak rendang dan sambel ini. Wow.

Welcome to Auckland
Dan inilah saya, benar-benar sampai di Auckland, New Zealand. Sampai sekarang masih berasa ngawang-ngawang aja, entah karena belum siap menerima kenyataan atau karena jetlag, haha. Alhamdulillah.

Pagi pertama di Auckland. (Ini maksa banget foto selfie-nya, gara-gara hampir dibilang hoax sama Iffah & Qyqy. Grrr.)

Comments

  1. Bagian Limo nya kocak teh. haha. Niat banget emang drivernya yaa... XD
    Eh, itu kenapa emangnya petugasnya bilang "Donation?" kok saya belum ngeh ya apaan :D
    Have a good luck Teh Az untuk study-nya. Ceritanya sungguh mengharu-biru #ikutansedih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa gokil lah pokoknya, haha...
      Pramugarinya nawarin barangkali mau nyumbang dana untuk UNICEF... hehe..
      Thank you Teguh! Semangaaat buat kita!
      Mudah-mudahan haru-birunya jadi bahagia-pelangi yah soon...

      Delete

Post a Comment