Tunjukkan Otakmu bukan Ototmu

This notes made saat aku menonton berita tentang berbagai umat Islam di dunia mengungkapkan kemarahannya terhadap film "Innocent of Muslims". (Alhamdulillah TV Tuner-nya udah nyala, jadi aku bisa nonton TV, hehe) Kembali ke berita tadi, keningku berkerut dan tiba-tiba cerita tentang Abdul Muththalib muncul dalam ingatanku. Saat pasukan gajah Abrahah datang ke Mekkah untuk menyerang Ka'bah, ia juga merampas 200 unta milik Abdul Muththalib. Kemudian apa yang dilakukan kakek Rasulullah SAW ini? Beliau mendatangi Abrahah dan meminta untanya dikembalikan. Hal ini membuat Abrahah keheranan, "Kenapa kau menanyakan untamu yang hanya 200 ekor itu? Apa tidak sebaiknya kamu tanyakan tentang maksud kedatanganku disini, yang hendak menghancurkan Ka'bah, yang sudah berabad-abad disucikan oleh agamamu dan nenek moyangmu?"
Abdul Muthalib menjawab, "Aku ini adalah orang yang mempunyai unta, adapun Ka'bah itu sudah ada yang mempunyai yaitu Tuhan (Allah), termasuk yang mengurusinya."
Setelah unta-untanya dikembalikan, beliaupun kembali ke rumahnya. Dan ketika Abrahah mulai bergerak menyerang Ka'bah, datanglah gerombolan burung menyerang pasukan Abrahah, seperti tercantum dalam Q.S. Al-Fiil ayat 1 sampai 5 :

1.  Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah[1601]?
2.  Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?
3.  Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4.  Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5.  Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

[1601]  yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Kemudian cerita tentang penduduk Thaif yang melempari Rasulullah SAW dengan batu, sampai membuat malaikat Jibril sangat marah dan meminta izin pada Rasul untuk menghancurkan Thaif.
Akan kami perangi mereka dengan cinta” itulah kalimat yang pernah disampaikan oleh Hasan Al-Banna. Kalimat itu memberikan gambaran bahwa langkah kita dalam menyebarkan kebaikan diikuti dengan penuh kecintaan karena Allah SWT. Hal itu pun menggambarkan bahwa Islam itu lahir dengan kasih agung, cinta dari sang Khaliq untuk umat manusia. Mengayomi dan menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan.
Seandainya kita melirik sejarah perjalanan Rasulullah saat beliau datang ke Thaif, kemudian masyarakat menyambutnya dengan batu, air ludah dan kotoran. Hal itu menjadi sambutan hangat yang membuat Rasulullah semakin bergairah untuk terus melangkah. Hingga Kemudian Rasulullah pun beristirahat di bawah pohon kurma hingga datanglah malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat Thaif. Rasulullah pun mengatakan “jangan, sungguh mereka melakukan hal itu karena mereka belum mengetahui”.
Sebetulnya bisa saja Rasulullah menerima tawaran dari malaikat Jibril, akan tetapi kecintaan beliau kepada mereka lebih besar dari apa yang mereka lakukan kepada Rasulullah itu sendiri. Bagaimana seandainya itu terjadi kepada kita? Saat kita menyebarkan kebaikan pada manusia, kemudian kita mendapatkan sambutan yang hangat seperti yang dialami Rasulullah, kemudian ada yang menawarkan bantuan untuk memberikan pelajaran dengan sukarela. Mungkin tidak sedikit yang menerima tawaran itu.
Kisah di atas hanyalah sepenggal kisah dari banyak kisah perjalanan Rasulullah saat memperjuangkan Islam, kisah yang menjelaskan bahwa Islam lahir bersama Rahman RahimNya untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya. Bahkan Hingga akhir hayatnya pun Rasulullah tetap mengkhawatirkan umat manusia, “ummati…ummati…ummati…”
Cintalah rahasianya. Saat hamparan pasir itu menjadi mercusuar peradaban, saat Islam meluas dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara hingga ke Eropa Barat dan Timur, bukan hanya sekedar catatan-catatan perang, hunusan pedang dan lautan darah. Akan tetapi Itu adalah catatan-catatan para generasi juang yang penuh cinta karena Allah yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dan dari kejahilan yang dilakukannya. Maka teranglah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. Cinta karena Allah di dalam bingkai Islam.
Wallahu’alam.
Tindakan anarkis yang dilakukan sekarang malah membuat persepsi publik tentang muslim teroris semakin kuat. Sebenarnya yang lebih efektif adalah bagaimana umat Islam meningkatkan kualitas bukan hanya kuantitas hingga bisa menjadi UMAT ADIKUASA, jadi tidak akan ada lagi yang berani menghina kita. Sayangnya sampai sekarang baru Iran yang punya nuklir dan cukup ditakuti mereka yang disebut-sebut penguasa dunia. Mana umat Islam yang lain? Mungkin masih sibuk belajar, bekerja, mencari sesuap nasi, mual-mual, mengamuk di kedutaan besar asing sementara otak dari perbuatan keji yang mereka lakukan masih bersembunyi entah dimana sambil menertawakan kita. Mungkin inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW hingga akhir hayatnya, sampai memanggil, "Ummati, ummati, ummati". Maafkan kami, ya Rasul tercinta, semoga kami bisa menjadi ummat yang layak mendapat syafaat engkau nanti.
This is just my personal feelings, feel free to share your thought, too. :)

Comments